Home > Berita > Detail

Sistem Pelayanan Kesehatan untuk masyarakat Rural di India dan di Indonesia : Pengalaman pasca 4 minggu internship di Mahatma Gandhi Insitute of Medical Science

 

13 Juni - 8 Juli 2011

Marinda Asiah Nuril Haya, S.Ked

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

 

Sebagai institusi yang bergerak dalam mencetak SDM kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) memiliki peran dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. FKUI selalu berupaya untuk meningkatkan hasil pendidikan yang berkualitas, kreatif dan inovatif, serta berdaya juang dan diakui secara internasional. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dokter, FKUI mendapatkan grant oleh Ditjen Dikti Kemdiknas melalui program Health Professional Education Quality (HPEQ). Salah satu kegiatan yang diselenggarakan dalam program tersebut adalah program pertukaran mahasiswa mancanegara.

Mahatma Gandhi Institute of Medical Science (MGIMS) dipilih sebagai institusi untuk pertukaran pada program ini karena merupakan institusi pendidikan kedokteran yang didirikan di daerah rural. Institusi ini terkenal dengan departemen kedokteran komunitas yang bekerja sama dengan WHO. MGIMS dipilih sebagai mitra atas dasar pengalamanannya mengembangkan keterpaduan pendidikan kedokteran dengan pelayanan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau bagi masyarakat pedesaan yang kurang mampu. MGIMS bekerja sama dengan Rumah Sakit Kasturba memiliki program berbasis komunitas, dan model pelayanan kesehatan yang terdesentralisasi di tingkat desa.

Saya mendapatkan kesempatan untuk internship selama 4 minggu di MGIMS. Selama masa pendidikan di MGIMS, saya ditempatkan dalam 2 departemen, yaitu Departemen Medicine (Ilmu Penyakit Dalam) dan Departemen Kedokteran Komunitas. Dari pengalaman tersebut, saya diharapkan dapat membandingkan konsep yang sudah diimplementasikan di India dibandingkan di Indonesia, sehingga dapat dijadikan dasar motivasi dan pelajaran bagi kita dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik, mengingat Indonesia dan India dari sisi pemerataan ekonomi masih bisa dianggap setara. Dan inilah pengalaman saya selengkapnya.. 

 

Departemen Ilmu Penyakit Dalam : Keluarga pasien boleh menunggu di ICU, tidak ada unit gawat darurat, tapi rekam medis sudah elektronik

Dua minggu pertama saya menjalankan elective postingdi departemen Ilmu Penyakit Dalam. Karena keterbatasan bahasa, maka saya ditempatkan di Intensive Care Unit (ICU)Medicine Rumah Sakit Kasturba, rumah sakit pendidikan MGIMS. Saya ikut mempelajari kasus-kasus yang ada di

 

rumah sakit tersebut. Beberapa kasus yang saya jarang temukan di Indonesia, dapat saya temukan di sana. Daerah tempat MGIMS adalah daerah endemis untuk malaria falciparum dan malaria vivax. Selain itu, di daerah tersebut prevalensi sickle cell disease, gigitan ular, dan keracunan organofosfat sangat tinggi. Selama di departemen Ilmu Penyakit Dalam, saya dapat berdiskusi dengan para residen dan profesor yang ada di departemen tersebut mengenai kasus-kasus yang saya temukan.

(a) (b)

 

Gambar 1. (a) Bersama residen dan perawat staf ICU Medicine, (b) Setelah ronde bangsal bersama residen dan profesor

 

Selain itu, saya juga mempelajari perbedaan penanganan kasus antara India dan Indonesia, serta perbedaan sistem rumah sakit Kasturba dengan rumah sakit pendidikan FKUI. Pertama, mengenai sistem pelayanan intensive care unit (ICU). Karena keterbatasan jumlah perawat, maka keluarga pasien diizinkan untuk menunggu dan membantu merawat pasien di dalam ruangan ICU. Akibatnya, angka kejadian infeksi nosokomial pada ICU menjadi lebih tinggi. Kedua, perbedaan sistem penanganan kegawatdaruratan. Di RS Kasturba, tidak ada unit khusus instalasi gawat darurat (IGD). Di bagian terdepan rumah sakit terdapat pusat trauma dan kecelakaan. Namun, unit tersebut lebih berfungsi sebagai pusat penatalaksanaan trauma. Untuk kasus kegawatdaruratan lain, terdapat casualty yang berfungsi sebagai triase. Setelah melalui triase, pasien langsung dibawa ke departemen terkait untuk mendapat penatalaksanaan. Jadi, tatalaksana kegawatdaruratan dilaksanakan di departemen masing-masing. Ketiga, mengenai sistem informasi dan rekam medik. Walaupun RS Kasturba terletak di daerah rural, mereka telah menggunakan sistem informasi dan rekam medik elektronik. Penulisan resep, permintaan pemeriksaan laboratorium, serta penampilan hasil pemeriksaan penunjang sudah menggunakan sistem intranet. Selain itu, rekam medik juga disimpan secara elektronik. Jadi, semua data pasien dapat diakses dengan mudah melalui sistem intranet.

 

 

 

Departemen Kedokteran Komunitas : poliklinik umum di RS sebagai gate keeper, Klinik Swadaya masyarakat Kiran Clinic, dan Program Desa Binaan

                Pada 2 minggu terakhir, saya menjalankan elective posting di Departemen Kedokteran Komunitas. Saya mengikuti berbagai kegiatan, baik kegiatan lapangan maupun kegiatan diskusi di departemen. Dua hari pertama, saya ditempatkan di poliklinik umum RS Kasturba. Berbeda dengan yang saya dapatkan pada RS pendidikan di Indonesia, semua pasien yang datang ke RS Kasturba harus melewati poliklinik umum terlebih dahulu. Dokter yang ada di poliklinik umum tersebut yang kemudian merujuk pasien ke departemen yang sesuai. Jika kasusnya merupakan kasus kompetensi dokter umum, maka pasien akan ditatalaksana di poliklinik umum tersebut. Saya rasa sistem ini merupakan sistem yang baik untuk mencegah pasien datang ke poliklinik spesialis yang salah. Dengan keberadaan poliklinik umum ini, pengobatan di RS Kasturba menjadi lebih efektif dan efisien. Di poliklinik ini juga terdapat ruang khusus untuk edukasi dan konseling.

Selama beberapa kali, saya mengunjungi Kiran Clinic. Kiranclinic adalah klinik-klinik kecil yang dibangun oleh MGIMS di beberapa desa. Kiran clinic dibangun dengan modal dari penduduk desa, kemudian dikelola dengan kerjasama penduduk desa dan staf MGIMS. Penduduk desa mendapatkan banyak manfaat dari keberadaan klinik ini. Penduduk desa memiliki akses yang mudah terhadap fasilitas kesehatan, baik secara geografis maupun secara ekonomi. Klinik dibangun di tengah desa sehingga penduduk tidak perlu mengeluarkan uang untuk transportasi. Selain itu, karena kerjasama MGIMS dengan produsen obat, klinik ini bisa mendapatkan obat dengan harga murah, hanya 20-30% dari harga pasaran, sehingga penduduk bisa mendapatkan obat murah. Masyarakat pun lebih antusias dan kooperatif karena mereka dilibatkan dan berperan besar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di klinik ini.Pembangunan Kiranclinic ini merupakan usaha yang baik dari MGIMS sebagai institusi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Saya juga mengunjungi pusat pelatihan kesehatan rural yang didirikan MGIMS di Anji dan Bidhi. Di tempat tersebut, saya mengunjungi pusat pelayanan kesehatan primer, Kiran clinic, serta kunjungan ke desa tertentu untuk memberikan pelayanan kesehatan.

(a) (b)

(c)

 

Gambar 2. (a) Salah satu Kiran clinic, (b) Seorang residen kedokteran komunitas sedang memeriksa pasien, (c) Saya membantu melakukan pemeriksaan terhadap pasien

 

Satu hal lagi yang menarik dari MGIMS adalah program desa binaan. Setiap angkatan di MGIMS akan diberikan desa binaan, sehingga setiap mahasiswa akan memiliki 3 sampai 5 keluarga binaan.Mahasiswa MGIMS akan membina keluarga tersebut dalam jangka waktu 3 tahun. Selama 3 tahun, mereka secara rutin akan berkunjung rutin ke desa binaan untuk memberikan edukasi kesehatan dan kegiatan promosi kesehatan lainnya. Dalam 3 tahun, banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat desa tersebut. Dalam program ini pula, praktik kedokteran keluarga benar-benar diterapkan, di saat dokter menatalaksana pasien secara holistik dan komprehensif. Mereka mengikuti pasien secara berkesinambungan, baik saat sakit maupun sehat.

 

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 3. (a) Sebelum berkunjung ke rumah binaan, mahasiswa mendapatkan pengarahan kegiatan dari konsulen dan residen kedokteran komunitas, (b) Seorang mahasiswa sedang melakukan pengukuran tinggi badan salah satu anggota keluarga binaannya, (c) Bersama mahasiswa mencatat hasil pengukuran tinggi badan, (d) Setiap melakukan kunjungan ke desa, MGIMS juga menyediakan layanan pengobatan

 

Pada minggu terakhir saya di departemen tersebut, saya diminta untuk mempresentasikan sesuatu mengenai Indonesia. Untuk itu, saya memberikan presentasi mengenai profil demografi dan kesehatan Indonesia. Para residen dan staf pengajar memberikan respon yang baik atas presentasi tersebut. Mereka tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan dan sistem kesehatan di Indonesia.

 

Perbandingan Sistem Kesehatan India dan Indonesia

Berdasarkan data-data yang ada, Indonesia memiliki kondisi sosio-ekonomi serta kesehatan yang lebih baik daripada India. Tingkat buta huruf, kemiskinan, angka kematian ibu, serta angka kematian anak di India lebih tinggi daripada Indonesia.

Di India, kesehatan berada di bawah Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan. Jadi, program yang dijalankan tidak hanya terkait kesehatan, tapi juga kesejahteraan.Secara umum, sistem kesehatan Indonesia dan India memiliki banyak kemiripan. Namun, India mengakui pengobatan alternatif seperti Ayurveda dan Homeopathy dalam sistem kesehatannya.

India memiliki sistem kesehatan untuk rural dan urban.Di kota yang saya kunjungi, Wardha, terdapat urban health centre yang berfungsi sebagai poliklinik umum dan memiliki pusat pengobatan tuberkulosis (DOTS centre). Selain urban health centre, di tempat yang saya kunjungi terdapat community care centre, tempat khusus untuk pasien dengan HIV/AIDS, serta tempat perawatan untuk pasien-pasien kusta di Mahatma Gandhi Leprosy Foundation (MGLF).

Untuk kesehatan rural, terdapat sub-centre, pusat pelayanan kesehatan primer (setara dengan puskesmas di Indonesia), rumah sakit rural. Rumah sakit pendidikan menjadi pusat rujukan tersier. MGIMS sendiri dipercayai untuk mengampu 3 pusat pelayanan kesehatan primer yang berada di sekitar MGIMS.

Sejak tahun 2005, India memiliki National Rural Health Mission. Sejak saat itu, dimulai program pendidikan Accredited Social Health Activist (ASHA). ASHA adalah wanita penduduk desa yang menjalani pelatihan mengenai kesehatan selama beberapa minggu, kemudian diberdayakan sebagai pekerja kesehatan di desanya, terutama untuk kesehatan reproduksi. Selain ASHA, banyak pekerja sosial dan paramedis lain yang dilibatkan dalam menjalankan sistem kesehatan di India.

Di tempat yang saya kunjungi, saya merasakan upaya nyata dari MGIMS untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan pemberdayaan wanita, serta besarnya antusiasme masyarakat untuk terlibat dalam program-program tersebut. Misalnya saja Kishauri Panchayat, perkumpulan remaja putri yang secara berkala mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah kesehatan dan sosial dengan narasumber dari pekerja kesehatan. Mereka begitu bersemangat untuk datang ke pertemuan, mendapatkan edukasi kesehatan (misalnya pencegahan anemia, penatalaksanaan diare, persalinan yang aman), kemudian menyebarkan informasinya kepada keluarga dan teman-teman mereka. Selain itu terdapat kelompok wanita petani yang disebut sebagai self help group. Selain diberikan edukasi kesehatan, mereka juga diberikan pengetahuan mengenai pengelolaan uang dan akun bank. Dari program-program tersebut, terlihat usaha pemberdayaan wanita yang nyata. Hal ini disebabkan ketidaksetaraan gender di India yang masih sangat terasa.

(a) (b)

 

Gambar 4. (a) Pekerja kesehatan sedang memberikan edukasi kesehatan kepada anggota self help group, (b) ANM memberikan edukasi mengenai anemia kepada Kishauri Panchayat

 

                Berdasarkan diskusi saya dengan para residen kedokteran komunitas yang ada di sana, implementasi program menjadi masalah yang besar dalam meningkatkan derajat kesehatan India. Namun, pada tempat yang saya kunjungi, dimana MGIMS memegang peran dalam pelayanan kesehatan, hampir semua program berjalan dengan sangat baik dan menunjukkan respon yang positif.

                Program-program yang diterapkan di India sebenarnya sangat banyak yang mirip dengan program di Indonesia. Seperti self help group yang mirip dengan program PKK dan koperasi, Kishauri Panchayat yang mirip dengan Karang Taruna, serta Anganwadi yang mirip dengan Posyandu dan PAUD. Namun, ketika India mulai mencapai hasil positif dengan program-program tersebut, di Indonesia program-program tersebut malah sudah nyaris menghilang.

                Sangat disayangkan ketika negara-negara lain sudah memberikan perhatian kepada pelayanan kesehatan primer, Indonesia masih belum menunjukkan keseriusannya untuk memperbaiki dan memajukan pelayanan kesehatan primer serta kesehatan daerah rural. Dengan belajar selama 4 minggu di MGIMS, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga yang semakin memotivasi saya untuk dapat berperan serta memajukan pelayanan kesehatan primer pada khususnya, dan sistem kesehatan pada umumnya. Semoga pengalaman ini bisa memotivasi para pembaca sekalian

 

Post : 18 Juni 2013 14:45:34, Read : 78


Terkait