Home > Berita > Detail

Survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di SD Cengkawakrejo, Purworejo, Jawa Tengah

Oleh Risma Kristi Utami
Penerima Beasiswa Paripurna untuk Bangsa

"There are no seven wonders of the world in the eyes of a child. There are seven million." - Walt Streightiff

Nama saya Risma Kristi Utami, salah satu penerima Beasiswa Paripurna untuk Bangsa (BPuB) angkatan pertama dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang bekerjasama dengan Health Professional Education Quality (HPEQ). Kerjasama antara HPEQ dan FKUI ini memiliki fokus utama untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Seperti yang kita ketahui, kesehatan sangat mempengaruhi angka kematian ibu dan bayi. Dengan demikian demi mengembangkan kesehatan ibu dan bayi sesuai targetMillenium Goal Developments (MDGs) point 4 dan 5, HPEQ FKUI mencari dan memfasilitasi mahasiswa FKUI untuk terlibat dalam proyek ini. Ada beberapa beasiswa yanag diberikan oleh HPEQ FKUI, sebut saja BPuB, biaya proyek penelitian, biaya program pertukaran mahasiswa mancanegara, dan banyak lainnya. Pemberian beasiswa ini memfasilitasi saya untuk kuliah sekaligus berkarya untuk bangsa tanpa terhalang biaya. Menurut saya, ini merupakan kesempatan yang sangat baiki dan mulia.

Saat ini saya tengah menempuh pendidikan di tingkat II. Sebagai penerima beasiswa, saya mendapatkan tugas untuk melakukan survei dan kegiatan sosial di daerah yang saya pilih. Survei pertama ini bertempat di Kabupaten Purworejo, tepatnya di sebuah desa bernama Cengkawakrejo. Kabupaten ini adalah sebuah kabupaten yang termasuk propinsi Jawa Tengah, tetapi berbatasan langsung dengan Yogyakarta, kurang lebih 1-1,5 jam dari pusat kota Yogyakarta. Mayoritas penduduk di sini bermata pencaharian petani dan pedagang, sisanya adalah pegawai negeri. Banyak anak yang lahir dan dibesarkan di desa ini dan hampir seluruh orang tua menyekolahkan anak-anak mereka di satu-satunya sekolah dasar (SD) di desa ini, SD Cengkawakrejo.

Kegiatan sosial yang saya lakukan pada libur semester ini dilatarbelakangi oleh keadaan anak-anak di desa ini yang cukup memprihatinkan. Banyak di antaranya belum memperhatikan masalah kesehatan diri, baik di sekolah maupun di rumah. Masih sering dijumpai anak-anak mandi dan bermain di sungai, tanpa alas kaki, dan sebagainya. Penanaman nilai-nilai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus dimulai sedini mungkin. Pihak yang seharusnya paling berperan adalah keluarga dan orang tua. Sayangnya, karena faktor sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan, orang tua kurang memberikan perhatian lebih. Padahal, PHBS merupakan faktor yang memberikan pengaruh dalam perkembangan dan pertumbuhan seorang anak. Hal inilah yang kurang disadari oleh para orang tua. Oleh karena itu, saya tergerak untuk melakukan kegiatan penyuluhan mengenai PHBS di sekolah ini. Melalui kegiatan ini, saya ingin anak-anak tersebut bisa mempelajari sesuatu yang baru. Bisa memiliki kesadaran yang lebih mengenai hidup bersih dan sehat itu seharusnya bukan lagi suatu kewajiban, melainkan sebuah gaya hidup.

Kegiatan utama yang saya lakukan adalah penyuluhan PHBS di lingkungan sekolah. Saya dibantu oleh teman-teman saya dari universitas yang lain dalam kegiatan ini. Penyuluhan yang diikuti oleh semua siswa ini meliputi cara cuci tangan dan gosok gigi yang benar, dan pengetahuan umum mengenai PHBS di rumah dan di sekolah. Penyuluhan tersebut memakai sistem pos di mana para siswa dalam satu kelas dibagi menjadi 3 kelompok kecil yang akan berotasi dalam 3 pos, yaitu pos pengetahuan PHBS, pos gosok gigi, dan pos cuci tangan. Dalam pos gosok gigi dan pos cuci tangan, anak-anak tersebut secara langsung mempraktikkan apa yang diajarkan dengan antusias dan terlihat sangat aktif sehingga mampu memahami apa yang diajarkan.
Kegiatan kedua yang saya adakan adalah kaderisasi dokter kecil. Hal tersebut dikarenakan sudah empat tahun sekolah tersebut tidak memiliki dokter kecil. Kegiatan dokter kecil di sekolah tersebut sempat mati, terbengkalai, dan tidak ada pembinaan. Untuk itu, saya dan teman saya melaksanakan pelatihan dan kaderisasi dokter kecil. Kami memberikan materi mengenai dokter kecil, usaha kesehatans sekolah (UKS), pertolongan pertama pada kecelakaan, dan sebagainya. Kegiatan kaderisasi dokter kecil ini diikuti oleh siswa kelas IV dan V. Tujuan kegiatan dokter kecil ini adalah membentuk promotor PHBS di lingkungan sekolah. Melalui materi yang diberikan kepada dokter kecil ini, saya berharap mereka dapat mengingatkan teman-temannya untuk selalu berperilaku sehat. Selain itu, melalui materi pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang diberikan, saya berharap mereka dapat menjadi tim penolong bagi teman mereka yang sakit atau kecelakaan.

Selain penyuluhan, saya mengadakan survei kecil-kecilan mengenai PHBS di sekolah maupun di rumah. Survei tersebut diikuti oleh siswa-siswa kelas I-VI dan para orang tua dengan mengisi kuesioner. Isi kuesioner yang dibagikan kurang lebih mengenai pengetahuan mengenai PHBS di sekolah. Melalui survei tersebut, saya mendapatkan data bahwa sebenarnya siswa-siswa telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai PHBS, tetapi sayangnya, mereka kurang memiliki kesadaran untuk melakukannya.

Dalam liburan ini, saya juga sempat mengunjungi pos pelayanan terpadu (Posyandu) di desa ini dan berbincang-bincang dengan kader di sana. Desa ini terdiri dari empat rukun warga yang masing-masing memiliki empat buah Posyandu. Keempat Posyandu tersebut melayani 117 balita yang ada di keempat RW tersebut. Masing-masing Posyandu memiliki kurang lebih 5-10 kader, Namun, jumlah yang aktif datang hanya 2-3 orang saja sedangkan yang lainnya kurang aktif, mungkin karena kesibukan masing-masing.

Posyandu di desa ini kegiatannya sebatas penimbangan, PMT dan vitamin A saja. Untuk kegiatan imunisasi, baik balita maupun ibu hamil akan langsung datang ke bidan desa. Dari bidan desa itulah mereka juga mendapatkan informasi mengenai kehamilan dan kesehatan balita. Hal ini menjadi salah satu hal yang harus diperbaiki di Posyandu ini. Seorang bidan desa yang harus mengurus 117 balita dan sejumlah ibu hamil tentunya membutuhkan bantuan dari kader yang ada di daerah tersebut, setidaknya untuk edukasi. Menurut kader senior yang ada di daerah ini, kader di daerah ini kurang memiliki pengetahuan yang bisa dibagikan kepada ibu hamil. Mereka hanya sebatas diajari menimbang dan mencatat. Padahal, jika kader mendapat pengetahuan mengenai kesehatan ibu hamil, imunisasi, air susu ibu (ASI) eksklusif dan hal lain seputar kesehatan ibu dan anak seharusnya mereka bisa membantu bidan desa melalui edukasi. Selain itu, dengan kader yang terus berganti-ganti, belum dilakukan update informasi kepada para kader tersebut.

Jika dilihat dari ibu-ibu yang memiliki balita, mereka masih kurang memiliki pengetahuan tentang tahapan pemberian makanan. Ada beberapa ibu yang memberikan makanan tambahan sebelum waktunya. Hal tersebut dilakukan dengan alasan 'agar bayinya diam' kalau menangis. Masalah kedua adalah paparan asap rokok. Ternyata, dari 117 bayi dan balita yang ada di desa tersebut, hampir seluruhnya terpapar asap rokok. Belum ada usaha dari Posyandu untuk menangani hal ini, alasannya karena itu adalah hal yang sulit diubah, tergantung pada kesadaran masing-masing keluarga.

Di samping itu, saya juga sempat melakukan wawancara dengan Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak di Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Ibu Marjiyah, SKM. MM. Beliau sempat memberikan data mengenai angka kematian ibu, bayi dan balita di Kabupaten Purworejo beserta persebarannya. Pada tahun 2012 ini, angka kematian ibu (per 100.000 kelahiran hidup) di Kabupaten ini mencapai angka 202, angka ini mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Penyebab kematian ibu terbanyak adalah eklamsia dan perdarahan diikuti dengan emboli air ketuban, gagal ginjal, dan sebagainya. Akan tetapi, dari data tersebut hampir seluruhnya meninggal di rumah sakit dan ditolong oleh tenaga medis.

Pada tahun 2012 ini, tercatat angka kematian bayi (per 1000 kelahiran hidup) sebesar 14,9, sedangkan angka kematian balita sebesar 17,3. Dari bulan Januari sampai Desember 2012, terdapat 9.899 bayi lahir hidup dan 91 bayi lahir mati. Selain itu tercatat juga 109 kematian neonatus yang disebabkan oleh berbagai hal. Penyebab terbesar adalah berat badan lahir rendah kemudian diikuti asfiksi, sepsis, kelainan kongenital, masalah laktasi, dan lain-lain. Terdapat 39 kematian bayi yang disebabkan oleh pneumonia, diare, kelainan saluran cerna, dan lain-lain. Kematian balita tercatat 24 yang disebabkan oleh ISPA, diare, dan lain-lain. Dari wawancara tersebut juga didapatkan kesimpulan bahwa terdapat beberapa masalah yang ada di masyarakat sehingga menghasilkan angka kematian sebesar itu.

Masalah yang muncul di masyarakat yang belum terselesaikan antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, terutama ibu dan bayi, kepedulian suami, keluarga, dan masyarakat terhadap ibu hamil masih rendah, adanya sugesti terhadap dukun sebagai penolong persalinan terutama di daerah pegunungan, belum semua ibu hamil memeriksakan kandungannya secara teratur, adanya pernikahan dini, dan sebagainya. Angka kematian ibu, bayi, dan balita yang masih jauh dari target Millenium Development Goals Jawa Tengah ini menggerakkan saya untuk melakukan sesuatu untuk daerah-daerah yang jumlah kematiannya masih tinggi. Setelah mengetahui data dan persebaran kematian bayi dan balita di kabupaten ini, pada survei selanjutnya saya akan memfokuskan kegiatan saya pada posyandu dan pelayanan kesehatan ibu dan anak pada daerah-daerah yang masih memiliki angka yang tinggi dalam kematian ibu dan bayi.

Post : 07 Juni 2013 15:32:42, Read : 107


Terkait